SweetNovel HOME timur angst anime barat chicklit horor misteri seleb sistem urban
Dendam Berakhir Cinta.

Dendam Berakhir Cinta.

Sesuatu yang tidak diinginkan.

Pagi itu Di ruang instalasi kebidanan kedatangan seorang Pasien ibu hamil dengan usia kandungan yang telah memasuki tiga puluh enam Minggu. memiliki riwayat preeklamsia membuat wanita itu harus segera mendapatkan tindakan operasi Caesar secepatnya, jika tidak bukan hanya beresiko tinggi untuk ibunya namun juga bayinya.

"Cepat hubungi dokter Anis!!." Seorang bidan senior tampak memberikan instruksi pada salah seorang bidan lainnya untuk segera menghubungi dokter spesialis.

"Baik."

Tak berapa lama, Anis yang pagi itu bertugas memberi pelayanan di poli kandungan bergegas menuju ruang instalasi kebidanan setelah mendengar kabar darurat dari salah seorang bidan di sana.

"Bu dokter, saya mohon selamatkan anak saya, dia berhak lahir ke dunia ini!!." dengan berlinang air mata wanita itu bermohon pada Anis yang saat itu mulai memeriksa kondisinya.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk itu Nyonya, tapi anda harus tetap tenang!! Jika anda dilanda kepanikan seperti ini, bisa saja tekanan darah anda tidak stabil." tutur Anis setelah memeriksa kondisi wanita itu.

Setelahnya Anis pun meninggalkan ruangan tersebut, namun sebelum itu ia seakan memberi isyarat melalui sorot mata agar bidan yang bertugas mengikuti dirinya.

"Menurut hasil pemeriksaan saya serta hasil pemeriksaan pasien Sebelumnya, beliau menderita preeklamsia, dan sepertinya sejak menderita preeklamsia pasien tidak mendapatkan penanganan yang tepat sehingga membuat preeklamsia yang diderita pasien semakin parah. Jika tidak segera mendapat tindakan operasi, kemungkinan terbesar ibu dan bayinya tidak dapat diselamatkan." terang Anis pada bidan yang bertugas.

"Di mana anggota keluarga pasien??." lanjut tanya Anis.

"Keluarga pasien menunggu di depan dokter, tapi_." Bu bidan ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

"Tapi kenapa???" tanya Anis dengan wajah bingung.

"Tapi mereka tidak berani menandatangani persetujuan operasi, dokter. mereka ingin menunggu suami pasien yang sedang berada di perjalanan menuju ke sini." beritahu bidan pada Anis.

"Berapa lama lagi suami pasien akan tiba ??." tanya Anis lagi.

"Saya juga kurang tahu pasti, Dokter, yang jelas kata anggota keluarganya yang lain, suami dari pasien sedang berada di luar kota." lanjut beritahu bidan dan itu membuat Anis memijat pangkal hidungnya.

Meskipun menyayangkan hal itu, namun Anis tak dapat berbuat apa apa. Ia hanya bisa melakukan tindakan operasi jika ada anggota keluarga pasien yang bersedia menandatangani persetujuan tindakan operasi.

Sebelum meninggalkan ruangan instalasi kebidanan, Anis kembali menemui pasien.

"Maaf Nyonya, sepertinya untuk saat ini kami tidak bisa melakukan tindakan operasi pada anda, sebab sebagai tim medis kami juga membutuhkan persetujuan dari anggota keluarga pasien dan sampai saat ini kami belum mendapatkannya karena suami anda sedang berada di perjalanan dari luar kota." Anis mencoba memberi penjelasan pada pasien.

Wanita itu yang tadinya berbaring di atas tempat tidur pasien lantas merubah posisinya dengan duduk. Kini ia menatap Anis dengan wajah penuh harap.

"Saya mohon dokter, lakukan tindakan operasi secepatnya untuk menyelamatkan anak saya. tidak perlu menyembunyikan kenyataan dari saya, karena saya sudah tahu semuanya. Menderita preeklamsia parah, bisa saja membuat nyawa saya tidak bisa terselamatkan, tapi setidaknya tolong selamatkan nyawa anak saya!!." dengan wajah memelas wanita itu mengatupkan kedua tangannya di hadapan Anis sebagai ungkapan permohonannya.

Anis menghela napas dalam mendengarnya.

"Sungguh Nyonya, kami tidak bisa menyalahi aturan yang berlaku, karena itu bisa merusak nama baik saya dan juga nama baik rumah sakit, jika kami melakukan tindakan tanpa adanya persetujuan dari anggota keluarga anda." sesungguhnya Anis merasa tak tega namun mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi aturan yang harus di taati olehnya sebagai tim medis. Apalagi saat ini suami pasien sedang tak ada di tempat, bisa jadi hal itu akan menjadi bumerang bagi Anis nantinya jika sesuatu yang tidak diinginkan sampai terjadi.

"Jika anggota keluarga saya tidak bersedia menandatangani persetujuan operasi maka saya sendiri yang akan menandatangani persetujuan tindakan operasi pada diri saya." tegas wanita itu pada akhirnya.

Setelah melalui percakapan yang cukup panjang, akhirnya wanita bernama Ananda tersebut menandatangani surat persetujuan tindakan operasi dengan di saksikan anggota keluarganya, termasuk kedua orang tuanya.

"Siapkan ruang operasi!!." titah Anis setelah semua persetujuan tindakan operasi selesai di tanda tangani.

Beberapa jam kemudian, suara tangisan bayi perempuan menggema di ruangan operasi. kondisi bayi perempuan tersebut dalam kondisi sehat. namun sayangnya setelah beberapa jam usai mendapat tindakan operasi, pasien di nyatakan Kritis. Mungkin preeklamsia parah dan tekanan darah tinggi yang di deritanya membuat wanita itu tak sadarkan diri usai mendapatkan tindakan operasi.

Sudah satu jam berlalu semenjak pasien di pindahkan ke ruang ICU, namun masih tak ada tanda-tanda wanita itu akan segera siuman. Justru kondisi organ vitalnya semakin menurun, baik jantung dan juga nadinya semakin berdetak lemah.

Sebagai tim medis yang bertanggung jawab penuh atas tindakan operasi tersebut, Anis sudah melakukan tugasnya semaksimal mungkin. Bahkan Anis tak meninggalkan pasien, ia tetap memantau perkembangan pasien hingga tepat pukul setengah delapan malam, seorang perawat dengan paniknya menyampaikan pada Anis yang saat itu baru saja usai melaksanakan sholat isya, jika detak jantung pasien semakin menurun.

Anis bergegas menuju ruang ICU, melihat kondisi jantung pasien nyaris tak berdetak, Anis lantas menggunakan alat pompa jantung sebagai usaha terakhir untuk menyelamatkan nyawa pasien. sebagai tim medis Anis yang didampingi oleh beberapa orang perawat telah berusaha semaksimal mungkin tetapi sepertinya tuhan berkehendak lain. Tepat pukul delapan malam wanita muda bernama Ananda akhirnya di nyatakan meninggal dunia.

Sebagai seorang dokter Anis paling pantang menitihkan air mata jika sedang bertugas, namun kali ini sepertinya ada pengecualian, Anis menitihkan air mata ketika mengingat ada seorang bayi perempuan yang baru saja lahir ke dunia namun sudah harus kehilangan sosok ibunya.

Secepatnya Anis mengusap sudut matanya yang basah. "Saya akan menyampaikan kabar ini pada keluarga pasien." Anis mulai mengayunkan langkahnya meninggalkan ruangan ICU, untuk menyampaikan kabar duka pada keluarga pasien.

***

Di bandara internasional Soekarno-Hatta, seorang pria tampan tampak berjalan dengan terburu buru keluar dari area Bandara. Pria tampan yang saat ini mengenakan stelan jas lengkapnya nampak merogoh saku jasnya ketika mendengar ponselnya berdering.

Pria itu adalah Ansenio Wiratama seorang pengusaha muda ternama di tanah air.

"Mama mertua." gumam Ansenio ketika ia melihat nama pemanggil di ponselnya.

perasaan Ansenio semakin tak tenang ketika melihat mama mertuanya kembali melakukan panggilan. Dengan perasaan tak menentu Ansenio menggeser ke atas ikon hijau pada ponselnya untuk menerima panggilan dari ibu mertuanya.

"Ansenio su_." Ansenio tak menuntaskan kalimatnya ketika mendengar ibu mertuanya yang kini menyampaikan kabar kematian sang istri tercinta.

"Tidak mungkin.... Ananda tidak mungkin meninggalkan Aku..." dengan air mata yang mulai berlinang, Ansenio nampak menolak kenyataan yang terjadi, istrinya telah meninggalkan ia dan juga putri mereka untuk selamanya.

Sayang sayangku selamat datang di karya recehku yang baru ya.....semoga suka dengan alur ceritanya, untuk kali ini alur ceritanya sedikit menguras air mata.

Kebencian Ansenio Wiratama.

Dengan aura wajah yang tampak merah padam Ansenio mendatangi rumah sakit.

Anis yang berada di ruang staf medis untuk memeriksa beberapa reka medik pasien, tiba tiba mendengar suara keributan yang berasal dari depan ruangan.

Penasaran dengan apa yang terjadi, Anis lantas beranjak keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan.

Baru saja membuka pintu ruangan, Anis sudah di buat terkejut ketika ibu dari Ananda menunjuk ke arahnya dengan tatapan tak bersahabat.

"Ada apa ini??." Anis yang merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi lantas kembali mengayunkan langkahnya mendekat.

Baru beberapa langkah, tiba tiba Anis dikejutkan dengan tindakan seorang pria tampan yang menarik kerah bajunya layaknya seorang Lawan yang harus di enyahkan.

"Jadi anda yang telah membunuh istri saya??." dengan tatapan tajam bak elang yang hendak menerkam mangsanya, Ansenio menatap Anis.

Dengan sekuat tenaga Anis menepis cengkraman tangan kekar Ansenio pada kerah bajunya. Namun bobot tubuh Anis yang jauh lebih kecil dibanding tubuh atletis milik Ansenio, membuat usaha Anis berakhir sia sia. Untungnya ketika itu, Dr Atala yang tengah melintas segera membantunya untuk lepas dari cengkraman tangan kekar Ansenio.

"Apa yang anda lakukan, tuan ??? Apa anda tidak malu memperlakukan seorang wanita dengan kasar seperti itu??." tutur Atala setelah berhasil membantu Anis lepas dari cengkraman Ansenio.

"Selama dua puluh delapan tahun saya hidup di Dunia ini hal yang paling pantang saya lakukan adalah bertindak kasar pada seorang wanita, tetapi untuk kali ini sepertinya ada pengecualian untuk wanita ini." jawab Ansenio dengan aura wajah yang dipenuhi amarah.

Tidak sepenuhnya paham dengan maksud ucapan pria itu, Atala lantas meminta pria itu untuk menjelaskan secara detail tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Tidak mungkin, tuan Ansenio, sebagai tenaga medis kami tidak akan mungkin berani memberikan tindakan operasi tanpa adanya persetujuan tindakan dari pasien atau anggota keluarga yang lainnya." jawab Atala memberikan pembelaan pada Anis, setelah mendengar penjelasan dari Ansenio yang menurutnya mustahil di lakukan oleh Anis.

Permasalahan yang kini tengah di selesaikan di ruangan direktur utama rumah sakit tersebut , tak urung membuat penasaran para dokter dan juga perawat yang bertugas malam itu.

"Kali ini saya memberikan waktu pada anda untuk memberikan bukti jika memang anda tidak merasa melakukan kesalahan, dokter Danisha !!." tutur Dirut rumah sakit pada Anis.

Dengan cepat Anis menyerahkan bukti surat persetujuan tindakan operasi pada Dirut rumah sakit dan itu dilakukan Anis tepat di hadapan Ansenio.

Dirut rumah sakit menerima surat tersebut dari tangan Anis dan kemudian mulai membacanya dengan teliti.

Beberapa saat kemudian.

"Sepertinya tindakan operasi yang dilakukan dokter Danisha sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku, serta mendapatkan persetujuan dari pihak yang bersangkutan. di sini tertera nama dan tanda tangan istri anda, tuan Ansenio Wiratama. Dengan begitu, sebagai direktur utama rumah sakit saya tidak bisa menindak lanjuti kasus ini sebab perangkat saya telah melakukan tindakan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di rumah sakit ini."

Mendengar penuturan dari Dirut rumah sakit membuat Ansenio semakin geram, karena menurutnya pria itu membela seorang dokter yang bersalah.

"Sebagai seorang dokter, seharusnya wanita itu menunggu persetujuan dari saya sebagai suami dari pasien sebelum melakukan tindakan pada pasien." sanggahan Ansenio mau tak mau membuat Anis harus melontarkan kalimat pembelaan.

"Maaf tuan Ansenio Wiratama, sekalipun saya menunggu kedatangan anda terlebih dahulu sebelum memberikan tindakan pada pasien, mungkin nyawa istri anda tetap tidak bisa lagi di selamatkan. Menderita preeklamsia parah membuat pasien kehilangan banyak darah pada saat operasi, apalagi kondisi tekanan darah pasien tiba tiba saja naik beberapa saat setelah mendapatkan tindakan operasi. Lagi pula istri anda sendiri yang menginginkan semua ini, sebagai seorang dokter tentunya saya harus berusaha menyelamatkan pasien jika persyaratan telah memenuhi untuk dilakukan tindakan pada pasien. Sebagai tim medis saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien, Jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saya rasa itu diluar kendali saya sebagai manusia biasa. " Anis coba memberikan penjelasan. Namun kebencian Ansenio yang disebabkan kehilangan sang istri tercinta membuat pria itu seolah menolak semua penjelasan dari Anis.

"Sebelumnya saya turut berdukacita atas meninggalnya istri anda, tuan, namun begitu anda tidak bisa menyalahkan tim dokter yang bertugas dalam hal ini!!." kata Dirut pada Ansenio.

Dengan wajah yang dipenuhi aura kebencian, Ansenio Wiratama beranjak begitu saja meninggalkan ruangan tersebut.

Anis tampak menghela napas dalam setelah kepergian Ansenio, seorang pria yang menurutnya memiliki sifat yang sangat mengerikan.

**

Ansenio yang di temani kedua orang tuanya lantas membawa pulang jenazah istrinya sebelum kemudian besok akan di makamkan.

Tangisan putrinya menyadarkan Ansenio jika saat ini ia harus kuat demi buah hatinya, yang baru saja kehilangan sosok ibunya.

Seminggu setelah kematian sang istri, Ansenio terus menghabiskan waktunya di sebuah club malam dengan mabuk mabukan. Menurut Ansenio hanya dalam keadaan mabuk ia bisa sedikit mengurangi frustrasinya setelah kehilangan sosok wanita yang begitu di cintainya.

"Anda sudah mabuk berat, tuan." Jasen yang merupakan asisten pribadi Ansenio nampak mencegah Ansenio untuk kembali mengangkat gelas minumannya.

"Apa kau sudah bosan hidup, haaahhh????." sentak Ansenio dengan gaya khas orang mabuk ketika Jasen hendak meraih gelas di tangannya.

Jasen tidak menghiraukan sentakan Ansenio, pria itu justru memapah tubuh Ansenio untuk segera meninggalkan club malam tersebut.

Jasen mengantarkan Ansenio pulang.

Mama Dahlia yang menunggu di depan pintu utama nampak sedih melihat putranya yang sudah seminggu pulang dalam keadaan mabuk berat, bahkan saking banyaknya menenggak minuman beralkohol setiap malam, Ansenio butuh bantuan Jasen untuk memapah tubuhnya pulang ke rumah.

"Sayang, jangan tinggalkan aku, aku merindukanmu Ananda." Ansenio yang tengah di papah Jasen menuju kamarnya terdengar terus meracau dengan menyebut nama sang istri.

***

Keesokan harinya, Ansenio yang baru saja terjaga dari tidurnya merasa kepalanya seperti mau pecah. Pria itu tampak meremas kepalanya dengan kedua tangannya.

"Kamu sudah bangun??." suara ibunya mengalihkan perhatian Ansenio ke sumber suara.

Ansenio menatap ibunya sekilas sebelum kemudian beranjak turun dari tempat tidur. Ada rasa bersalah di hati Ansenio Karena telah membuat ibunya bersedih melihatnya setiap malam pulang dalam keadaan mabuk berat.

"Sampai kapan kamu akan bertindak bodoh seperti ini, Ansen??? apa kamu tidak kasian pada putrimu, dia sangat membutuhkan kasih sayang kamu sebagai seorang ayah tapi kamu justru sibuk mabuk mabukan di luar sana." ucapan Mama Dahlia sontak membuat Ansenio menghentikan langkahnya sejenak, namun begitu ia tak sampai menoleh.

"Ansen akan berusaha menjadi Daddy yang lebih baik lagi untuk Naya, dan Ansen juga janji tidak akan mabuk mabukan lagi." kata Ansenio sebelum kemudian kembali mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi.

Ada rasa lega di hati mama Dahlia ketika mendengar putranya berjanji tidak akan mabuk mabukan lagi. Mama Dahlia pun beranjak meninggalkan kamar putranya, hendak menemui cucu kesayangannya yang tadi di titipkan sebentar pada pengasuhnya.