SweetNovel HOME timur angst anime barat chicklit horor misteri seleb sistem urban
WORST PRINCE

WORST PRINCE

Bab 1 - Kebangkitan

Kaisar Yussa Angevin, duduk termenung di tengah keheningan kamarnya yang megah di istana.

Meskipun tubuhnya telah mencapai usia yang luar biasa, 102 tahun, kekuatannya masih terasa tegap, meski dipenuhi oleh kerutan-kerutan yang menceritakan kisah panjang hidupnya.

Dengan matanya yang masih tajam, ia memandang dengan kekecewaan pada buku di tangannya, novel usang yang berjudul 'The Greatest War Against the Devil'.

Lembar-lembar halaman yang kusam dan berdebu terbuka di depannya, menyajikan cerita tentang seorang protagonis yang mengalami kegagalan.

Kaisar Angevin melirik novel yang di pegangnya, matanya di penuhi rasa tidak puas.

"Novel ini sangat buruk," gumamnya, suaranya penuh dengan kekecewaan yang dalam. "Bagaimana mungkin karya semacam ini bisa masuk ke dalam istana kekaisaran."

Dia memejamkan mata sejenak, mengingat kembali detail cerita yang telah dipaparkan dalam novel itu.

Kisah tentang peperangan besar antara iblis dan manusia, di mana protagonis, seorang pahlawan tanpa dukungan dewa, berjuang mati-matian melawan kekuatan emas yang mengancam dunia.

Setiap halaman menggambarkan penderitaan dan pengorbanan, namun pada akhirnya, kekuatan iblis terlalu besar, dan pahlawan itu pun tewas di tangan raja iblis yang datang dari Demon Realm.

Sejenak, ruangan itu terasa begitu sepi, hanya terdengar gemerisik angin yang melintas di luar jendela.

Namun, dalam keheningan itu, pikiran Kaisar Angevin merenung jauh, "Novel ini memiliki konsep dunia yang sama dengan dunia ini"

Dengan gerakan yang perlahan, Kaisar Angevin menutup buku itu dan meletakkannya dengan lembut di atas meja.

"Penggambaran dunianya sangat detail, membuatku berpikir bahwa dunia itu memang ada" gumamnya, suaranya terdengar samar dalam keheningan.

Dia mengangkat pandangannya ke langit-langit yang dihiasi dengan lukisan-lukisan indah dan menghela nafas dalam-dalam.

Dengan perlahan, Kaisar Yussa Angevin bangkit dari kursinya dan melangkah menuju jendela.

Dia melihat ke arah langit yang cerah, angin menerpa wajahnya dengan lembut.

Pintu ruangan terbuka perlahan, mengungkapkan siluet seorang maid yang memasuki kamar Kaisar dengan langkah hati-hati.

Di belakangnya, nampan perak yang dihiasi dengan indah berisi segelas teh hangat menghiasi tangannya.

Dengan sikap yang penuh penghormatan, ia menundukkan kepala dalam penghormatan dan mempersembahkan segelas teh itu kepada Kaisar yang tengah menatap keluar.

"Ini teh anda hari ini, yang mulia," ucap maid tersebut dengan suara yang lembut dan penuh penghormatan.

Kaisar Yussa Angevin mengangkat pandangannya dari langit malam, menerima segelas teh dengan tangan yang kokoh.

"Terima kasih," ucapnya dengan lembut, matanya menatap maid tersebut dengan pandangan yang serius.

Namun, sebelum maid itu sempat meninggalkan ruangan, sebuah pertanyaan tiba-tiba terlontar dari bibir Kaisar, mengguncang keheningan yang menyelimuti kamar megah itu.

"Menurutmu, jika perang besar melawan ras iblis terjadi, siapa yang akan menang?" tanyanya, suaranya penuh dengan keraguan yang dalam.

Maid itu terkejut oleh pertanyaan yang tak terduga itu, kebingungan terpancar jelas dari ekspresinya yang terpancar.

"Ras iblis? Bukankah mereka telah dimusnahkan oleh Anda?" jawabnya dengan kebingungan, matanya mencari pemahaman dari wajah Kaisar.

"Jawab saja pertanyaanku," desak Kaisar Yussa Angevin, suaranya tegas tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari wajah sang maid yang terkejut.

"Tentu saja, ras manusia akan menang sepenuhnya karena memiliki Anda, yang mulia," kata maid itu dengan penuh keyakinan.

"Begitulah seharusnya," ucap Kaisar Yussa Angevin dengan sedikit mendesah, matanya menatap buku novel yang berada di meja dekat kasurnya.

"Bagaimana mungkin seorang iblis bisa menguasai dunia manusia seperti yang digambarkan dalam novel itu?" tambahnya, suaranya dipenuhi dengan keheranan.

Setelah menyeruput teh dengan elegan, Kaisar Yussa Angevin berjalan dan duduk di atas kasurnya yang megah.

"Terima kasih untuk tehnya, kau boleh pergi sekarang," ucapnya dengan suara yang lembut namun tegas kepada maid yang masih berdiri di sana.

Maid itu menundukkan kepala dalam tanda hormat dan segera meninggalkan kamar Kaisar.

Yussa Angevin berbaring di atas kasurnya yang nyaman. Suara suara dari masa lalu terdengar di telinganya.

"Bersorak untuk Kekaisaran Angevin!"

"Bersorak untuk Kaisar!"

"Bersorak untuk kaisar!"

"Akhirnya seluruh wilayah di dunia telah bersatu!!!"

"Bersorak untuk kaisar!"

"Kaisar adalah seorang penguasa dunia sebenarnya!!"

"Bersorak untuk kaisar!"

"Bersorak untuk penaklukan kita!!"

"Bersorak untuk kaisar!!"

Mata Yussa Angevin bersinar terang. "..." dia terdiam sejenak.

"Jadi inilah akhirnya." batin Yussa Angevin. "Tidak ada lagi yang tersisa ataupun tempat untuk di naiki"

Kaisar Yussa Angevin menunjukkan ekspresi muka yang terlihat lemah.

"Rasanya hampa"

...****************...

Malam telah menyelimuti kastil megah dengan kegelapan yang menakutkan.

Langit diliputi oleh awan gelap yang menutupi cahaya bulan, meninggalkan koridor-koridor kastil dalam bayang-bayang yang menyeramkan.

"Hah... Hah..." suara hembusan napas terengah-engah memenuhi udara saat seorang pria berumur 40-an melintasi koridor dengan tergesa-gesa.

Dalam gendongannya, seorang remaja berambut kuning tampak kehilangan kesadaran.

"Kenapa..." batin pria itu, keringat mengalir deras di wajahnya. "Kenapa aku tidak melihat siapapun?!" tambahnya dengan nada kebingungan dan kepanikan yang jelas terpancar dari ekspresinya.

"Dapatkah aku percaya dengan sistem keamanan di kastil ini?" Pikirnya dengan kesal, "Kenapa tidak ada yang melindungi Pangeran Lucas?!" teriaknya, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan.

Mereka berdua dikejar-kejar oleh sekelompok assassin yang muncul secara tiba-tiba dari kegelapan koridor.

Pria berumur 40-an itu berusaha menjaga langkahnya, sementara tetap memikul tanggung jawab untuk melindungi pangeran yang sedang tak sadarkan diri itu.

"Tidak mungkin," gumamnya di antara hembusan napas terengah-engah. "Walaupun dia lemah dan rapuh, dia tetaplah pangeran Kekaisaran Valorian,"

Tiga assassin mampu mengejar dan langsung menyerang pria tersebut, namun dengan refleks yang cepat, ia berhasil menepis serangan mereka.

Pria itu terdorong mundur beberapa langkah sambil terus mempertahankan beban yang ia pikul.

Pria itu dengan sigap menarik pedangnya dari sarungnya. "Bahkan jika tubuhku hancur, aku, Arthur, akan melindunginya, apapun yang terjadi!"

Tiga assassin itu langsung menyerang Arthur, tapi dengan cepat, ia mampu menahan dan menyerang balik dengan kekuatan penuh.

Namun, beberapa assassin lainnya muncul dari bayangan, menyerang Arthur dari belakang dengan kecepatan yang tak masuk akal.

"Ark!" jerit Arthur, merasakan nyeri menusuk tajam saat kakinya hampir terpotong.

"Dasar pengecut!" serunya sambil meraih pangeran Lucas yang hampir tergelincir dari gendongannya.

"Kau beruntung karena aku salah tebas tadi, dasar tua bangka!" cela salah satu assassin dengan nada mengejek, senjatanya mengancam Arthur dan pangeran Lucas.

Lima assassin lainnya bergabung, bergerak maju bersamaan menuju Arthur, menyusun strategi untuk membunuh pangeran Lucas tanpa ampun.

Arthur meletakkan pangeran Lucas dengan lembut di lantai, sambil berusaha menahan rasa sakit yang menyiksa tubuhnya.

"Tunggu, tunggulah sebentar, yang mulia!" ucapnya dengan napas yang terengah-engah.

"Tidak peduli berapapun orang yang mengejar anda," ujar Arthur dengan suara yang terengah-engah namun penuh dengan keberanian.

"Aku akan melindungi anda sebisa mungkin!" tambahnya dengan penuh keyakinan, meskipun tangan dan kakinya terluka parah.

Namun, serangan tak kenal lelah dari kelima assassin itu terus menggempur Arthur, mencoba untuk menembus pertahanannya dan menyerang pangeran yang berada di belakangnya.

"Siapa kalian?!" tanya Arthur dengan suara yang gemetar, manahan rasa sakit yang menyiksa tubuhnya.

"Kalian tidak akan berhasil!" desaknya, sambil terus berusaha bertahan dari serangan mematikan yang datang dari segala arah.

"Kau tidak perlu tahu, tua bangka!" jawab salah satu assassin dengan nada sinis. "Lagipula, kalian berdua akan mati di sini juga..." tambahnya.

Salah satu assassin akhirnya berhasil melewati Arthur dan dengan gerakan yang cepat, ia meluncur menuju Pangeran Lucas.

"Aku akan berbelas kasih dengan membunuhmu dengan satu serangan," ujarnya dengan suara yang dingin. "Matilah...!! Lucas De Valorian..!!" teriaknya, senjatanya bersiap untuk menembus dada sang pangeran.

"YANG MULIA...!!!" Teriak Arthur dengan kekhawatiran yang tak terbendung.

Ketika pedang assassin itu hampir mengenai jantungnya, Pangeran Lucas membuka matanya dengan perlahan.

Seolah-olah waktu melambat, Pangeran Lucas menepis pedang itu dan membelokkan arahnya.

Pangeran Lucas berdiri dan memegang pedang assasin di depannya, energi berwarna emas yang indah berputar di sekitarnya.

"To-Tolong..!! Tubuhku tak bisa bergerak..?!!" teriak assassin itu dengan kepanikan yang jelas terpancar dari suaranya.

Pangeran Lucas menatap orang di depannya dengan tajam, sementara keempat assassin lainnya bergerak mendekat, bersiap untuk menyerang dengan penuh niat membunuh.

"Matilah, Pangeran Lucas..!!" Keempat assassin itu bersiap menebas Pangeran Lucas dengan kejam, mengabaikan segala bentuk belas kasihan.

"Golden Annihilation," gumam Pangeran Lucas dengan suara yang hampir tak terdengar.

Tubuh assassin yang menyerang Lucas terpelintir dan tersayat oleh sesuatu yang tak terlihat, sementara energi berwarna emas melingkari tubuh sang pangeran dengan indahnya.

Dalam sekejap, tubuh mereka semua hancur dan darah bercucuran di lantai, sementara sinar terang yang sangat indah menyelimuti ruangan yang mencekam.

"Pangeran Lucas..??" panggil Arthur kebingungan.

Arthur terpukau dengan apa yang barusan terjadi, dia melihat pangeran Lucas yang sedang menatap lengannya dengan seksama.

"ini menyenangkan sekali..." gumam pangeran Lucas, senyuman tipis terlihat di wajahnya yang di lumuri darah para assasin.

Bab 2 - Sang Penguasa

Dalam kegelapan malam yang menyelimuti istana, suasana menjadi semakin suram dengan setiap hembusan angin yang menyebarkan kegelapan.

"The Greatest War Against the Devil"

Di gambarkan sebagai kisah epik yang penuh dengan penderitaan dan keputusasaan, di mana kematian adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan para tokohnya.

Di awal cerita, beberapa orang meninggal, takdir tragis yang memenuhi halaman-halaman novel tersebut.

Jantung lemah yang bahkan tidak mampu membunuh serangga.

dan tubuh yang lemah yang membuatnya kesulitan berjalan.

Seorang pangeran dari Kekaisaran Valoria yang tak memiliki kekuatan sama sekali.

Dan kemudian akhirnya mati di awal cerita karena di kejar oleh assasin di awal cerita.

Pangeran terburuk dalam sejarah, Lucas de Valorian.

Karakter yang bahkan tidak layak disebut sebagai karakter, karena kehadirannya hanya ada beberapa baris dalam cerita.

"Jika menurut novel aslinya..." Gumam Lucas de Vincenzo. "Dia seharusnya mati dalam insiden kemarin."

Dia mengingat peristiwa kemarin yang mengubah takdir seorang karakter 'Lucas De Vincenzo' yang seharusnya telah tiada.

Dengan langkah gemetar, Lucas berjalan menuju jendela, mencoba memahami situasi yang tak terduga ini.

"Ini jelas bukan mimpi," ucapnya dengan halus, "Tak peduli seberapa dalam aku bermimpi, tidak mungkin aku tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana mimpi."

Namun, kebingungan dan keheranan tetap menyelimuti pikiran Lucas.

"Bagaimana sesuatu seperti ini bisa terjadi," gumamnya dalam hati, tak percaya dengan apa yang dia alami. "Aku memang telah mengalami banyak hal sulit selama satu abad kehidupanku... tapi, masuk ke dalam sebuah novel?"

"Jika ini benar-benar novel The greatest war against the devil, maka aku tidak punya banyak waktu," kata Lucas dengan cemas.

Lucas merapikan rambut berwarna emasnya yang acak-acakan. "Dalam lima tahun, perang terbesar melawan iblis akan terjadi," ujarnya dengan nada cemas.

Dalam upaya melawan kegelapan yang mengancam, protagonis dan kelompoknya mempertaruhkan segalanya untuk melawan iblis.

Namun, kekuatan gelap yang dipimpin oleh Raja iblis terlalu kuat, dan mereka akhirnya menderita kekalahan yang mutlak.

Dengan kegagalan mereka, Akhirnya dunia manusia hancur karena iblis.

"Ini buruk," pikirnya dengan kegelisahan, "Aku harus mengubah alur cerita novel ini"

Lucas memandangi langit yang penuh dengan bulan biru yang bersinar.

"Tapi, dengan tubuh lemah ini," gumamnya, merasakan seberapa rapuhnya tubuh pangeran Lucas.

Detak jantung Lucas terus berdetak karena ambisinya telah muncul kembali, membuatnya mengingat perasaan yang telah hilang di kehidupan sebelumnya.

Deg....

Deg...

Deg...

Lucas tersenyum sinis, mata kuningnya bersinar terang di kegelapan malam. "Jadi masih ada hal... untuk kucapai," batinnya penuh gairah.

Lucas melangkah dengan mantap, menarik napas dalam-dalam saat menatap kejauhan.

"Aku lebih baik mengurus masalah di sekitarku terlebih dahulu," pikirnya, sambil memperbaiki kerah pakaiannya dengan hati-hati.

Setelah membenarkan kerah bajunya dengan rapi, Lucas beranjak pergi dari kamar dengan langkah yang indah.

Namun, sebelum dia berhasil membuka pintu, Arthur telah membukanya terlebih dahulu.

"Yang mulia..?" Arthur membungkuk hormat, matanya penuh dengan kekhawatiran. "Bagaimana kondisi anda yang mulia..?" tanya Arthur dengan suara yang penuh kepedulian.

Lucas tersenyum kecil, menyentuh bahu Arthur dengan lembut.

"Aku baik-baik saja," jawabnya dengan suara yang tenang, sebelum melanjutkan langkahnya.

Arthur dengan setia mengikuti di belakangnya, memperhatikan dengan seksama setiap gerakan Pangeran Lucas.

"Anda mau kemana yang mulia?" tanya Arthur dengan penuh keingintahuan.

"Aku akan pergi keluar sebentar," jawab Lucas tanpa menoleh, suaranya terdengar tegas namun halus. "Jadi, Berhenti mengikutiku" tambahnya.

"Eh..??" Arthur terkejut dan kebingungan saat mendengar permintaan itu, namun dengan patuh, ia berhenti mengikuti langkah Lucas.

Di pintu, dua ksatria yang sedang menjaga melihat Pangeran Lucas mendekat.

"Berhenti, yang mulia!" teriak salah satu dari mereka dengan nada gugup, memberi isyarat agar Lucas berhenti.

"Aku ingin jalan-jalan di luar sebentar," ucap Lucas dengan suara yang halus.

Ksatria yang menghadangnya terlihat cemas. "ini sudah malam, anda tidak boleh keluar di luar berbahaya." kata mereka, berusaha menahan Lucas.

"Bukankah disini juga berbahaya?" tanya Lucas memastikan.

"Tetap tidak," jawab ksatria itu dengan tegas. "Kami telah di perintahkan untuk tidak membiarkan anda keluar."

"..." Lucas menatap Ksatria itu dengan sangat tajam. "Siapa yang memerintahkannya?

Tanpa menunggu jawaban, Lucas mengayunkan tangan kanannya dengan cepat.

Armor besi yang dipakai oleh ksatria di depannya terbelah, dan ksatria itu pun terpisah menjadi dua bagian, meninggalkan darah yang mengucur deras di lantai.

Lucas dengan dingin menginjak kepala ksatria yang telah terbelah, menegaskan otoritasnya dengan tegas.

"Kalian adalah ksatria-ku," ucapnya, suaranya bergetar dengan kekuatan yang tak terbantahkan. "Dan aku tidak pernah memberikan perintah seperti itu."

"?!" Ksatria satunya melompat mundur dengan ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.

Arthur, yang melihat adegan itu dari belakang, terkejut dan kebingungan. "Y-Yang mulia..?" panggilnya dengan suara gemetar, tidak bisa menyembunyikan kebingungannya.

Dengan langkah yang berkharisma, Lucas membuka pintu kastil, menyambut bulan biru yang bersinar di langit malam.

"Lewat sini..!!" teriak beberapa ksatria.

"Cepat..!!" teriak ksatria lainnya.

Lucas terdiam sejenak, matanya menatap bulan dengan serius. "Penyergapan kemarin mustahil terjadi tanpa bantuan orang dalam," pikirnya dalam hati.

Berjalan sendirian di bawah sinar bulan, matanya besinar terang di kegelapan.

"Aku harus menganggap semua orang lain selain Arthur..," pikirnya meyakinkan diri sendiri, "Sebagai musuhku...!!"

"Pangeran Lucas...!!" teriak salah satu ksatria, memanggil Lucas yang sedang berdiri sendiri.

"Kenapa anda membunuh ksatria pengawal anda sendiri?" tanya mereka dengan bingung.

Lucas menoleh ke arah mereka, mata kuningnya menatap mereka dengan tajam membuat orang yang di tatap nya seolah sedang terjatuh ke dalam jurang ketakutan.

"Aku mengeksekusinya karena mengkhianati darah biru," jawab Lucas dengan tegas, suaranya bergema di dalam ruangan yang sebelumnya tenang.

Semua ksatria yang hadir, wajah-wajah mereka memancarkan ketegangan yang tak terbendung, berkeringat dingin mendengar pernyataan keras Lucas.

"Aku yakin kalian juga mengerti," ucap Lucas, suaranya terdengar tegas namun terkontrol. "Bermalas-malasan ketika sedang menjaga darah biru"

"mengabaikan pembunuhan" Ujar Lucas melanjutkan ucapannya. "Serta membantu pembunuhan terhadap darah biru."

Pangeran Lucas berdiri tegak, kedua lengannya lurus ke samping, rambut kuningnyanya berkibar dikarenakan angin malam.

"Atas nama Lucas De Valorian, Pangeran dari Kekaisaran Valoria," ujarnya dengan senyuman sinis yang menyiratkan keputusan yang sudah bulat. "Aku akan mengeksekusi kalian semua."

Salah satu ksatria yang terlihat seperti pemimpin mereka, mengeluarkan keringat dingin dari keningnya.

"Pangeran tahu bahwa kami terlibat dengan insiden kemarin," pikir ksatria itu dengan panik, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang semakin genting. "Kalo begitu.."

"Keluarkan pedang kalian," perintah ksatria yang tampak seperti pemimpin mereka, suaranya bergema di ruangan. "Kita akan membunuh Pangeran Lucas saat ini juga,"

Seluruh ksatria yang hadir mengangkat pedangnya, siap untuk menyerang Pangeran Lucas.

"Ini menyenangkan," ucap Lucas dengan suara yang penuh kepuasan. "Ini sangat menyenangkan."

Ksatria yang sebelumnya terlihat sebagai ketua mereka bergerak maju dengan gesit, pedangnya bersinar di bawah cahaya rembulan yang menyinari mereka.

Tubuh Lucas diselimuti oleh cahaya emas yang berkilau, seolah-olah menerima perlindungan dari kekuatan suci yang tak terlihat.

"Aku akan menambahkan satu kejahatan lagi pada daftar kejahatan kalian," lanjutnya dengan suara yang tenang namun penuh dengan keputusan yang tidak bisa ditawar.

"Matilah..!!! Lucas De Valorian!!" teriak ketua ksatria sambil mencoba menebas Lucas dengan kekuatan penuh.

Lucas dengan lincah menghindar dari serangan tersebut, gerakannya secepat kilat, seolah-olah dia bisa membaca setiap gerakan lawannya sebelum mereka melakukannya.

"Kejahatannya adalah.." ucap Lucas dengan suara yang tenang, seolah-olah dia sedang berceramah di depan para ksatria yang hendak menyerangnya.

Dengan kecepatan yang tak masuk akal, Lucas melancarkan serangan balik, menusuk dada ketua ksatria yang mencoba menyerangnya.

Tubuh ksatria itu terpental mundur beberapa langkah, terjatuh tak berdaya di tanah dengan darah yang mengucur deras dari luka yang dia terima.

"Percobaan pembunuhan..." lanjut Lucas, tatapannya terlihat dingin.

Lucas berdiri di depan mayat ketua ksatria itu, lengannya bersinar terang oleh cahaya emas.

Darah ksatria yang dia bunuh melumuri bajunya, angin malam menerpanya dengan lembut.

"Mustahil...??" batin Arthur, matanya terbelalak karena terkejut, mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi di hadapannya.

"Apakah dia benar-benar Pangeran Lucas yang ku kenal..?" tanya Arthur dalam hati, meragukan identitas dari sosok yang sebelumnya ia kenal.

Lucas menoleh ke belakang, tatapannya tajam dan penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.

"Ini hanyalah contoh," tegasnya, menyampaikan pesan yang jelas kepada ksatria yang tersisa.

"Mulai saat ini, jika ada kejadian yang terjadi di dalam kastil bocor keluar," ujar Lucas dengan suara yang menggema di ruangan. "Akan ku bunuh kalian semua," tambahnya, mengancam seluruh orang yang tinggal di kastilnya.

Lucas berdiri dengan kedua tangannya di belakang, aura kekuatan yang tak terbantahkan memancar dari dirinya, menunjukkan bahwa dia adalah pemimpin yang tidak akan mentolerir pelanggaran.

"Jangan pernah lupa bahwa aku adalah tuan kalian," tegasnya dengan suara yang penuh dengan otoritas.

Menegaskan kedudukannya sebagai penguasa yang berkuasa atas kehidupan dan kematian mereka.